Ini bukan sekadar tulisan tentang aplikasi. Ini tentang kecewa, lelah, dan sesuatu yang selama ini saya rawat seorang diri. Saya perlu menceritakannya dengan jujur.
Pesan dari pembuat aplikasi
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saudara-saudaraku, saudara seiman, seagama, satu payung yang sama.
Perkenalkan, nama saya Cahyanudien Aziz Saputra. Saya pembuat aplikasi MTA ONE dan juga mengikuti kajian MTA di Kabupaten Sragen.
Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya, Di Balik MTA ONE & Brosur MTA: Tentang Niat, Salah Paham, dan Tetap Melangkah. Kalau Anda belum membacanya, saya sangat menyarankan untuk membaca bagian pertama terlebih dahulu. Di sana saya bercerita tentang awal mula aplikasi ini, kenapa saya membuatnya, dan kenapa pada Januari 2026 saya berniat menghibahkan MTA ONE dan Brosur MTA Lengkap kepada MTA secara gratis.
Pertama, saya ingin mengucapkan selamat datang.
Entah Anda mengikuti perjalanan MTA ONE sejak versi pertama sekitar tahun 2020, atau baru menggunakannya sampai versi 4 pada tahun 2026, saya mengucapkan terima kasih. Kita memiliki kebutuhan yang sama: ingin mengikuti kajian yang disiarkan MTA dengan lebih mudah melalui aplikasi di handphone.
Hari ini, 28 Oktober 2026, saya menulis tulisan ini setelah memikirkan banyak hal.
Ternyata cukup melelahkan mengelola aplikasi seorang diri, dengan unduhan yang sudah melewati 21 ribu. Kadang saya berhenti sebentar dan berpikir: ternyata sudah sejauh ini perjalanan kita.
Dari siaran radio yang tidak bersuara. Dari brosur mingguan yang terlambat saya perbarui. Dari alamat kajian yang datanya perlu diperbaiki. Dari MTA TV yang tidak menampilkan gambar.
Semua itu pernah terjadi. Semua itu saya hadapi dan coba perbaiki satu per satu.
Saya tidak menulis ini untuk menghitung jasa. Saya menulis karena selama ini ada banyak hal yang saya simpan sendiri, dan belakangan ini saya mulai merasa tidak nyaman untuk terus diam.
Kecewa.
Ya, mungkin itulah inti tulisan saya kali ini.
Saya kecewa. Saya lelah. Dan jujur, saya tidak tahu harus menjelaskan perasaan ini dengan kata apa lagi.
1. Apakah saya tidak dianggap ada?
MTA ONE mulai dirilis sekitar tahun 2020. Aplikasi ini kemudian diunduh dan digunakan oleh ribuan orang.
Saya tidak ingat persis tahun berapa, tetapi masih pada masa pandemi, ketika Silaturahim Ahad Pagi dilakukan secara daring, saya pernah dihubungi oleh almarhum Pak Rudi untuk ikut Zoom Ahad Pagi. Kami berbincang, dan saya mendapat kesempatan menjelaskan sedikit tentang aplikasi MTA ONE.
Lalu, mungkin sekitar tahun 2023 atau 2024, saya diundang ke Sekretariat MTA Pusat. Saat itu ada pembicaraan mengenai iklan yang muncul di MTA ONE. Beberapa pengguna mengeluhkan iklan pinjaman online. Pada waktu itu, kesimpulan pembicaraan yang saya ingat adalah aplikasi boleh diteruskan, tetapi iklan pinjaman online diminta untuk dihapus.
Saya tidak ingat siapa saja yang hadir dan tidak ingin mengarang detail yang sudah lupa. Yang jelas, setelah itu saya tetap melanjutkan aplikasi ini.
Kemudian pada Januari 2026, saya membuat proposal fisik. Isinya sederhana: saya ingin menghibahkan MTA ONE dan Brosur MTA Lengkap kepada MTA secara gratis.
Saya datang membawa dokumen, lalu bertemu dengan salah satu pihak di sekretariat. Setelah beberapa waktu, saya mengonfirmasi apakah proposal itu sudah disampaikan. Saya diberi tahu bahwa proposal tersebut sudah disampaikan dan sudah dibaca pimpinan pusat.
Lalu, apakah saya mendapat respons?
Tidak.
Benar-benar tidak ada respons yang memberikan kejelasan. Tidak ada jawaban bahwa proposal itu diterima. Tidak ada jawaban bahwa proposal itu ditolak. Tidak ada penjelasan apakah ada bagian yang perlu dibicarakan atau diperbaiki.
Beberapa minggu dan bulan berikutnya, saya menanyakan kelanjutannya melalui kontak yang saya miliki dan melalui email resmi MTA. Hasilnya sama: tidak ada jawaban yang menjelaskan apa keputusan mereka.
Saya memahami bahwa sebuah organisasi punya banyak urusan. Saya juga memahami bahwa proposal saya bukan satu-satunya hal yang harus dipikirkan. Namun, apakah sesibuk itu sampai tidak ada satu jawaban pun yang bisa diberikan selama berbulan-bulan?
Saya tidak sedang meminta agar proposal saya diterima. Saya hanya berharap ada jawaban.
Kalau ditolak, katakan ditolak. Saya bisa menerima itu dan melangkah. Kalau diterima, kita bisa membicarakan bagaimana menyerahkan aplikasi tersebut dengan baik. Tetapi kalau tidak ada jawaban sama sekali, apa yang harus saya lakukan?
Kalau Anda mengirim pesan singkat kepada seseorang dan berharap mendapat balasan, apakah Anda selalu menuntut agar jawabannya sesuai keinginan Anda? Tidak. Kadang kita hanya ingin tahu bahwa pesan itu dibaca dan dijawab dengan jelas.
Begitu pula dengan proposal saya.
Yang membuat saya kecewa bukan karena saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan. Yang membuat saya kecewa adalah tidak adanya kejelasan, padahal saya sudah berusaha menyampaikan niat saya secara langsung dan tertulis.
Rasanya seperti sudah mengulurkan sesuatu dengan dua tangan, tetapi dibiarkan tetap terulur tanpa tahu apakah akan diterima atau ditolak.
2. MTA Portal dirilis. Kenapa?
Sebelum melanjutkan, saya ingin mengingatkan Anda untuk membaca tulisan pertama. Saya pernah bercerita bahwa ketika MTA ONE mulai dikenal, ada anggapan bahwa saya bukan warga MTA, mencari keuntungan dari agama, menampilkan iklan yang mudarat, bahkan ada yang mengatakan warga MTA dilarang menggunakan MTA ONE.
Mengingat itu, saya masih bertanya-tanya: kenapa tidak tabayyun? Kenapa tidak bertanya langsung kepada saya? Kenapa menyimpulkan niat seseorang tanpa mencoba mencari penjelasan darinya?
Saya tidak habis pikir.
Pada awal Oktober 2026, MTA Portal dirilis. Jujur, awalnya saya kaget. Benar, ada aplikasi MTA Portal sekarang?
Dulu saya sempat bergabung dalam grup tim IT pusat, seingat saya sebelum tahun 2023. Saat itu salah satu hal yang dikerjakan adalah database warga. Saya belum punya pengalaman yang cukup dalam pengelolaan data, jadi saya tidak banyak membantu. Bidang saya lebih dekat dengan pengembangan aplikasi seluler.
Ketika MTA Portal dirilis, saya mencoba menggunakannya. Kesan pertama saya terus terang: kok begini? Menurut saya, ini belum siap untuk dirilis ke publik.
Saya tahu kalimat itu terdengar keras. Namun itulah kesan saya ketika mencoba aplikasi tersebut. Saya tidak ingin berpura-pura memberi penilaian yang lebih baik hanya karena aplikasi itu diterbitkan oleh organisasi yang sama-sama saya ikuti.
Kalau Anda mengikuti perkembangan MTA ONE, beberapa fitur yang ada di MTA Portal bukan hal baru bagi saya. MTA TV, radio online, brosur, rekaman pengajian dalam enam kategori, Al-Qur’an, tanggal Hijriah, jadwal salat, alamat kajian, dan kabar MTA—semua itu sudah pernah ada di MTA ONE. Kebutuhan-kebutuhan tersebut juga tercantum dalam proposal yang saya ajukan pada Januari lalu.
Saya tidak sedang menuduh bahwa MTA Portal dibuat berdasarkan proposal saya. Saya tidak memiliki bukti untuk menyimpulkan itu. Tetapi urutan peristiwa ini tetap sulit saya abaikan: proposal saya tidak mendapat jawaban yang jelas, sementara beberapa kebutuhan yang saya tawarkan untuk diserahkan kemudian muncul dalam aplikasi resmi.
Sekarang, coba tempatkan diri Anda pada posisi saya.
Saya datang dengan niat menyerahkan aplikasi yang sudah saya buat dan rawat. Saya tidak menawarkan penjualan. Saya tidak menawarkan kerja sama bisnis. Saya ingin menghibahkannya secara gratis. Saya menunggu jawaban selama berbulan-bulan. Tidak ada jawaban yang jelas.
Lalu sebuah aplikasi resmi dirilis, dengan sejumlah fitur yang selama ini juga saya kembangkan dan tawarkan untuk diserahkan.
Bagaimana seharusnya saya merasa?
Bayangkan Anda ingin memberikan sesuatu kepada orang lain. Tangan Anda sudah terulur di depan orang itu. Yang Anda tunggu bukan harus tangan yang menerima—kalau ditolak pun Anda bisa memahami. Yang Anda tunggu setidaknya adalah respons. Tetapi tidak ada jawaban. Lalu suatu hari, di depan Anda, orang itu menjulurkan tangan dengan membawa sesuatu yang serupa.
Apakah Anda memahami maksud saya?
Saya senang MTA akhirnya mempunyai aplikasi sendiri. Saya benar-benar senang jika MTA bisa mengembangkan layanan digitalnya sendiri dan mengelolanya secara langsung. Tetapi senang melihat aplikasi resmi hadir tidak otomatis menghapus kekecewaan saya terhadap hal yang terjadi sebelumnya.
Dua hal itu bisa benar pada saat yang sama.
Saya mendukung adanya aplikasi resmi. Saya juga kecewa karena proposal saya dibiarkan tanpa kejelasan, sementara sejumlah kebutuhan yang saya usahakan kemudian muncul dalam aplikasi resmi.
Tentang pengalaman menggunakan MTA Portal
Ada persoalan lain yang ingin saya sampaikan: pengalaman teknis saat mencoba MTA Portal.
Ketika membuka halaman awal, saya melihat sejumlah permintaan jaringan untuk data yang tampaknya tidak semuanya diperlukan saat itu juga. Berikut sebagian catatan dari satu sesi pengujian saya:
16:43:45 HTTPS GET qrsarmta.cloud /absensimta/api/v1/radio/integrity/nonce
200 application/json 181 B 53 ms
16:43:45 HTTPS GET api.mta.or.id /api/v1/perwakilan?limit=300
200 application/json 18.7 KB 1.43 s
16:43:45 HTTPS GET api.mta.or.id /api/v1/binaan?limit=1000&page=1&status=1
200 application/json 3.8 KB 183 ms
16:43:45 HTTPS POST adapter-pa.googleapis.com /play.gateway.adapter.phonesky.BrowseService/GetItems
200 application/grpc 1.5 KB 339 ms
16:43:46 HTTPS GET api.mta.or.id /api/v1/majlis-pusat
200 application/json 248 B 81 ms
16:43:46 HTTPS GET api.myquran.com /v2/sholat/kota/cari/Kab.%20Aceh%20Jaya
200 application/json 164 B 216 ms
16:43:46 HTTPS GET api.mta.or.id /api/v1/cabang?limit=1000&page=1
200 application/json 80.2 KB 4.90 s
16:43:46 HTTPS GET api.myquran.com /v2/sholat/kota/cari/Darul%20Hikmah
200 application/json 140 B 217 ms
16:43:46 HTTPS GET api.myquran.com /v2/sholat/kota/cari/Kec.%20Darul%20Hikmah%20%C2%B7%20Kab.%20Aceh%20Jaya
200 application/json 188 B 179 ms
16:43:46 HTTPS GET play.google.com /store/apps/details?id=id.mta.portal&hl=id
200 text/html 170 KB 274 ms
16:43:49 HTTPS POST qrsarmta.cloud /absensimta/api/v1/radio/token
403 application/json 45 B 64 ms
16:43:51 HTTPS GET lh.googleusercontent.com /...rw-w28-h28-v1-e15
200 image/webp 384 B 73 ms
16:43:51 HTTPS GET lh.googleusercontent.com /...rw-w112-h112-v1
200 image/webp 2.1 KB 74 ms
16:43:53 HTTPS GET qrsarmta.cloud /absensimta/api/v1/radio/integrity/nonce
200 application/json 181 B 49 ms
16:43:56 HTTPS POST qrsarmta.cloud /absensimta/api/v1/radio/token
403 application/json 45 B 50 ms
16:43:58 HTTPS GET qrsarmta.cloud /absensimta/api/v1/radio/integrity/nonce
200 application/json 181 B 46 ms
Ini bukan benchmark resmi. Ini catatan dari pengujian saya sendiri, pada perangkat dan koneksi yang saya gunakan. Namun, dari sini terlihat bahwa aplikasi meminta data cabang dalam jumlah besar, termasuk permintaan dengan waktu tunggu hampir lima detik dalam sesi tersebut.
Pertanyaan saya: apakah data sebanyak itu memang perlu dimuat ketika pengguna baru membuka halaman depan? Mengapa data dari fitur yang belum tentu dibuka harus ikut diminta sejak awal?
Setiap permintaan jaringan memiliki biaya: kuota, waktu tunggu, dan pekerjaan tambahan untuk perangkat. Dampaknya tentu berbeda antara perangkat dan jaringan. Tetapi bagi pengguna dengan handphone yang terbatas atau koneksi yang lambat, cara aplikasi mengambil data bukan hal sepele.
Menurut saya, aplikasi yang dibuat untuk memudahkan warga seharusnya juga memperhatikan hal-hal seperti ini. Fitur banyak saja tidak cukup. Cara fitur itu disajikan juga menentukan apakah aplikasi benar-benar nyaman digunakan.
Saya menyampaikan ini karena saya melihatnya dan mengujinya sendiri. Bukan untuk mengejek pembuatnya. Saya berharap aplikasi itu diperbaiki.
3. Kenapa radio online MTA sekarang seperti eksklusif?
Bagian ini yang paling membuat saya lelah selama beberapa minggu terakhir.
Sejak MTA Portal dirilis, radio online MTA tidak lagi dapat diakses secara publik melalui jalur pihak ketiga seperti sebelumnya. Dari pengujian saya, aksesnya sekarang dibatasi melalui mekanisme yang digunakan oleh layanan resmi MTA, termasuk situs MTA dan aplikasi MTA Portal. Akibatnya, MTA ONE tidak lagi bisa ikut menyebarkan siaran radio tersebut dengan cara yang sama.
Saya ulangi: radio online MTA sekarang terasa eksklusif untuk jalur resmi MTA. Orang yang ingin mendengarkannya melalui aplikasi lain, atau membantu menyebarkannya lewat aggregator radio, ikut terdampak. Ini bukan persoalan kecil bagi saya. Inilah yang membuat fitur radio di MTA ONE berulang kali berhenti berjalan.
Pertanyaan saya: bukankah radio online dibuat agar bisa didengarkan melalui internet? Kenapa sekarang orang yang ingin mendengarkan harus melewati jalur tertentu saja?
Sekarang ada banyak aggregator radio online. Mereka mengumpulkan siaran dari berbagai tempat agar orang lebih mudah menemukan dan mendengarkannya. Saya mengambil contoh urfan.id. Saya tidak kenal pembuatnya. Dari yang saya lihat, ia berusaha me-relay siaran radio online MTA agar bisa didengarkan melalui situsnya.
Dengan mekanisme akses yang sekarang saya temui, apakah layanan seperti itu masih bisa memutar radio MTA?
Saya tidak mengatakan pemilik radio tidak boleh mengelola layanan miliknya. Tentu mereka punya kewenangan atas infrastrukturnya. Tetapi kalau akhirnya hanya layanan resmi yang bisa mengakses siaran, maka jangkauan radio itu ikut ditentukan oleh keputusan tersebut.
Apakah eksklusivitas seperti ini lebih penting daripada membuat siaran dapat didengar lebih banyak orang?
Saya sungguh tidak memahami pertimbangannya.
Apa yang saya temukan secara teknis
Bagi Anda yang berkecimpung di bidang IT, saya jelaskan berdasarkan pengujian yang saya lakukan.
Pada akses radio yang saya amati, terdapat pemeriksaan melalui layanan qrsarmta.cloud, termasuk endpoint radio/integrity/nonce dan radio/token. Saya juga menemukan permintaan ke layanan Google Play Integrity melalui aplikasi MTA Portal.
Google Play Integrity adalah layanan untuk membantu pengembang memeriksa integritas aplikasi dan perangkat, lalu menggunakan hasil pemeriksaan itu untuk mengambil keputusan di sisi server. Teknologi semacam ini mempunyai kegunaan, misalnya untuk keamanan aplikasi dan mencegah penyalahgunaan layanan.
Yang membuat saya bertanya-tanya adalah konteks penggunaannya di sini: pemeriksaan tersebut tampak menjadi bagian dari mekanisme untuk mendapatkan akses radio. Artinya, mendengarkan radio tidak lagi hanya soal memiliki alamat siaran dan koneksi internet; ada pemeriksaan tambahan yang harus dilewati sebelum akses diberikan.
Saya juga mengamati bahwa situs radio melakukan permintaan yang berulang dalam interval tertentu. Dari lalu lintas jaringan, terlihat adanya akses ke layanan menggunakan koneksi pengguna dan informasi yang secara teknis tersedia dalam komunikasi web, seperti alamat IP dan jenis browser. Saya tidak memiliki akses ke kode server, sehingga saya tidak bisa memastikan seluruh data yang disimpan, berapa lama data dipertahankan, atau bagaimana data itu digunakan. Tetapi mekanisme pemeriksaan akses tersebut cukup terlihat dari pengujian yang saya lakukan.
Saya ingin mengajukan pertanyaan secara langsung: untuk apa pembatasan seketat itu diperlukan dalam konteks mendengarkan radio dakwah?
Teknologi Play Integrity tidak salah. Teknologi ini juga bukan hanya untuk perbankan. Tetapi ketika pemeriksaan integritas menjadi syarat akses radio, dampaknya nyata: layanan pihak ketiga kesulitan ikut menyebarkan siaran. Pertanyaan saya tetap sama: mengapa akses radio dakwah harus dibuat seperti ini?
YouTube saja memiliki berbagai cara untuk membuat konten dapat ditonton dan dibagikan, sementara akses radio ini justru terasa semakin tertutup. Saya tidak sedang menyamakan seluruh sistem teknis keduanya. Saya sedang mempertanyakan prioritasnya: apakah pembatasan akses ini benar-benar lebih bermanfaat daripada memudahkan lebih banyak orang untuk mendengarkan?
Ini radio dakwah. Saya kira tujuan utamanya adalah agar orang dapat mendengarkan kajian.
Saya tidak ingin terus bermain kucing dan tikus
Sebenarnya saya masih bisa mencoba menambal MTA ONE agar radio tetap dapat diputar. Saya sudah melakukan beberapa percobaan. Ada cara yang sempat berhasil, tetapi kemudian akses berubah dan cara itu tidak lagi berjalan.
Lalu saya mencoba lagi. Setelah itu berubah lagi.
Sampai kapan?
Saya hanya ingin ikut menyebarkan siaran radio MTA. Tetapi yang saya hadapi sekarang seperti permainan kucing dan tikus: setiap kali saya menemukan jalan, jalan itu berubah lagi. Saya harus memeriksa ulang, menulis kode lagi, menguji lagi, dan mengeluarkan waktu untuk masalah yang tidak saya kendalikan.
Saya tidak ingin terus mengejar mekanisme akses yang sengaja atau secara teknis membatasi layanan pihak ketiga. Kalau pemilik layanan memutuskan bahwa radio hanya boleh diakses melalui jalur resmi mereka, saya harus menerima kenyataan bahwa saya tidak bisa menjamin fitur radio di MTA ONE akan tetap berjalan.
Tetapi saya tetap ingin bertanya: mengapa radio online dakwah MTA harus se-eksklusif ini?
Ada orang yang memotong video pendek pengajian lalu mengunggahnya ke media sosial. Ada orang yang membagikan rekaman kajian. Ada pihak yang berusaha memperluas jangkauan dakwah melalui caranya sendiri. Mengapa untuk radio online justru terasa berbeda?
Saya tidak sedang meminta akses khusus untuk diri saya. Saya ingin pendengar yang menggunakan MTA ONE tetap bisa mendengarkan radio sebagaimana sebelumnya.
Waw. Ternyata mempertahankan sebuah fitur yang tujuannya sederhana bisa menjadi serumit ini.
4. Tuduhan itu ditujukan kepada siapa?
Saya ingin mengajak Anda membaca artikel di situs resmi MTA tentang peluncuran MTA Portal: MTA Resmi Luncurkan Aplikasi MTA PORTAL.
Di sana terdapat kalimat berikut:
“Aplikasi ini diterbitkan untuk digunakan seluruh warga atau simpatisan MTA untuk memudahkan dalam mengaji dan agar warga tidak terkecoh karena adanya pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan untuk mencari keuntungan pribadi dengan membuat aplikasi dengan nama MTA.”
Saya ingin bertanya kepada Anda yang membaca tulisan ini: siapa yang dimaksud dengan “pihak-pihak tertentu” yang mencari keuntungan pribadi itu? Aplikasi apa yang dimaksud? Siapa pembuatnya?
Tulisan tersebut tidak menyebut nama. Karena itu, saya tidak akan mengarang nama atau mengklaim tahu pasti siapa yang dimaksud. Tetapi saya juga tidak bisa berpura-pura bahwa kalimat tersebut tidak punya dampak terhadap orang yang membuat aplikasi dengan nama MTA.
Sebelumnya saya sudah pernah mendengar tuduhan bahwa saya bukan warga MTA, mencari keuntungan dari agama, dan membuat aplikasi yang tidak semestinya digunakan. Sekarang, di situs resmi, muncul pernyataan tentang pihak tertentu yang mencari keuntungan pribadi melalui aplikasi dengan nama MTA.
Menurut Anda, bagaimana saya harus membacanya?
Saya merasa kecewa. Sangat kecewa.
Saya membuat MTA ONE karena saya sendiri membutuhkan cara yang lebih mudah untuk mengikuti kajian. Saya belajar coding dari nol. Saya merawat aplikasi ini bertahun-tahun. Saya menanggung biaya dan waktu sendiri. Pada Januari 2026, saya datang membawa proposal untuk menghibahkan MTA ONE dan Brosur MTA Lengkap secara gratis kepada MTA.
Saya tidak meminta MTA membeli aplikasi saya. Saya tidak meminta keuntungan dari pengalihan aplikasi tersebut. Saya justru menawarkan untuk menyerahkannya.
Lalu proposal itu tidak mendapat jawaban yang jelas, dan sekarang saya membaca pernyataan seperti itu di situs resmi.
Bagaimana saya tidak kecewa?
Kalau memang ada masalah dengan aplikasi pihak ketiga, sebutkan dengan jelas persoalannya. Kalau ada pembuat aplikasi yang dianggap mengambil keuntungan pribadi, jelaskan hal yang menjadi dasar pernyataan tersebut. Jangan membuat kalimat yang luas, lalu membiarkan orang-orang menebak siapa yang dimaksud.
Saya tidak punya dasar untuk menyatakan bahwa saya adalah sasaran kalimat itu. Tetapi kalimat tersebut terbit di ruang publik, tidak menyebut nama, dan muncul setelah riwayat yang saya ceritakan di atas. Dampaknya nyata: orang yang membaca bisa menghubungkannya dengan aplikasi seperti MTA ONE, sementara pihak yang dimaksud tidak pernah dijelaskan secara terang.
Saya berharap persoalan seperti ini diselesaikan dengan tabayyun dan komunikasi langsung, bukan dengan kalimat yang membuat pembaca menafsirkan sendiri.
Saya tidak meminta dipuji. Saya tidak meminta perlakuan istimewa. Saya hanya ingin niat saya tidak disimpulkan secara sepihak.
Bukankah itu hal yang wajar?
5. Lalu, apa akhirnya?
Jujur, saya lelah.
Selama kira-kira dua minggu terakhir, saya banyak menghabiskan waktu untuk mencari cara agar radio MTA tetap bisa didengarkan melalui MTA ONE. Saya mencoba patch, membuat relay radio seperti pendekatan yang saya lihat di layanan lain, sampai mencoba mengambil sumber siaran melalui YouTube.
Apakah semuanya berjalan?
Tidak.
Ada yang berhasil sebentar lalu berhenti. Ada cara yang membutuhkan biaya tambahan. Ada kemungkinan saya harus terus mengubah kode ketika mekanisme akses berubah, atau mengeluarkan biaya untuk menjalankan relay sendiri tanpa kepastian bahwa cara itu akan bertahan.
Saya sampai bertanya pada diri sendiri: apakah saya harus mengeluarkan lebih banyak uang setiap bulan hanya agar orang-orang masih bisa mendengarkan radio MTA melalui aplikasi saya? Apakah saya harus terus mengubah kode setiap kali akses berubah? Apakah saya harus menghabiskan waktu untuk mengejar mekanisme yang tidak saya kendalikan?
Apakah itu sepadan?
Saya sudah menulis di bagian pertama bahwa saya ingin sedikit lebih santai. Saya ingin tetap mengembangkan aplikasi, tetapi tidak ingin semua hal harus saya pikul sendirian.
Namun, ketika radio tidak lagi dapat diakses, saya merasa tanggung jawab saya sebagai pembuat aplikasi belum selesai. Ada ribuan orang yang menggunakan MTA ONE. Mereka tidak tahu bahwa di balik layar saya sedang mencoba berbagai cara, membaca lalu lintas jaringan, memperbaiki kode, dan menguji ulang hanya agar sebuah fitur bisa bekerja lagi.
Itulah kenapa dua minggu terakhir saya terus mencoba.
Tetapi sepertinya sudah cukup.
Saya ingin berhenti mengejar perubahan akses radio ini. Versi 4.0.9 sepertinya sudah cukup untuk menandai batas usaha saya saat ini. Saya tidak bisa menjamin radio akan terus berjalan normal, sebab jalur aksesnya tidak berada dalam kendali saya.
Saya tidak ingin menulis seolah-olah semuanya baik-baik saja. Saya sudah berusaha. Saya sudah mencoba beberapa pendekatan. Saya sudah menghabiskan waktu untuk mencari jalan keluar. Dan saya mulai menyadari bahwa saya tidak bisa terus mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya tanpa kepastian.
Jadi, apakah MTA ONE akan berhenti?
Saya belum mengatakan bahwa MTA ONE akan langsung ditutup. Aplikasi ini masih memiliki fitur lain dan masih digunakan orang untuk kebutuhan mereka.
Tetapi saya juga tidak bisa menjanjikan bahwa MTA ONE akan terus berjalan seperti sebelumnya. Khususnya untuk radio online, saya tidak ingin terus menjanjikan perbaikan yang pada akhirnya bergantung pada layanan milik pihak lain.
Saya harus mengerem.
Bukan karena saya tidak peduli kepada pengguna. Justru karena saya peduli, selama dua minggu ini saya berusaha mencari solusi. Tetapi kepedulian tidak berarti saya harus terus memaksakan diri tanpa batas.
Untuk Anda yang selama ini menggunakan MTA ONE, saya ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih sudah menggunakan aplikasi ini, memberi saran, mengirim masukan, memberi ulasan, dan ikut menyebarkannya.
Dan saya benar-benar minta maaf.
Saya ulangi: saya benar-benar minta maaf karena tidak bisa menjamin aplikasi ini terus berjalan normal, terutama untuk radio online. Saya tidak mengenal sebagian besar dari Anda. Tetapi setiap hari, ada ribuan orang yang menggunakan aplikasi ini untuk mendengarkan kajian dan mengakses kebutuhan MTA dengan lebih mudah.
Saya tahu ada orang yang hanya ingin membuka aplikasi, menekan tombol radio, lalu mendengarkan. Mereka tidak seharusnya harus memikirkan semua persoalan yang saya ceritakan di sini.
Saya minta maaf karena sekarang saya harus mengakui bahwa ada bagian dari aplikasi ini yang tidak lagi bisa saya jaga sendirian.
Saya hanya ingin menepi sebentar
Saya senang MTA membuat aplikasi resmi. Saya berharap MTA Portal benar-benar diperbaiki dan dapat membantu warga serta simpatisan MTA. Saya tidak menganggap keberadaan aplikasi resmi sebagai masalah dengan sendirinya.
Tetapi saya juga tidak bisa menghapus cerita yang terjadi di baliknya: proposal yang saya ajukan tidak mendapat jawaban yang jelas, radio online yang sekarang sulit diakses melalui aplikasi lain, dan pernyataan di situs resmi yang membuat saya bertanya-tanya bagaimana pembaca akan menilai pembuat aplikasi seperti saya.
Saya sudah berusaha menjelaskan. Saya sudah mencoba memperbaiki. Saya sudah mencoba mencari jalan keluar.
Saya kecewa karena komunikasi yang sederhana saja tidak saya dapatkan. Saya lelah karena harus terus berusaha mempertahankan fitur yang aksesnya tidak saya kendalikan. Dan saya sedih karena sesuatu yang saya rawat selama bertahun-tahun sekarang membuat saya harus bertanya apakah masih masuk akal untuk terus berjuang dengan cara yang sama.
Saya tidak menulis ini agar orang membenci MTA Portal atau menyalahkan pengguna aplikasi resmi. Pengguna tidak bersalah. Mereka hanya memakai aplikasi yang tersedia untuk mengikuti kajian.
Saya menulis karena saya juga perlu didengar. Saya ingin orang tahu bahwa di balik sebuah aplikasi ada orang yang mengerjakannya, ada waktu yang dihabiskan, ada biaya yang dibayar, dan ada perasaan yang tidak selalu bisa disimpan sendiri.
MTA ONE mungkin masih akan saya rawat. Saya mungkin masih akan mengembangkan aplikasi lain. Tetapi untuk persoalan radio ini, saya ingin berhenti sebentar.
Saya hanya ingin menepi.
Terima kasih sudah membaca sampai akhir.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam hangat dari pembuat aplikasi MTA ONE,
Cahyanudien Aziz Saputra
Top comments (0)