Saya tidak pernah berencana membuat aplikasi kasir.
Kalau beberapa tahun lalu ada yang bilang saya akan menghabiskan lebih dari 141 jam membangun aplikasi POS, mungkin saya akan tertawa.
Namun semuanya berubah setelah saya melihat bagaimana banyak aplikasi kasir digunakan di dunia nyata.
Bukan saat dipresentasikan.
Bukan saat dipromosikan.
Bukan saat ada demo yang sudah disiapkan dengan rapi.
Melainkan saat benar-benar digunakan untuk bekerja.
Dan yang saya lihat membuat saya tidak nyaman.
Tampilannya seperti Excel yang dipaksa menjadi aplikasi.
Kolom di mana-mana.
Tabel memenuhi layar.
Tombol kecil berjejer tanpa prioritas.
Menu bertingkat.
Laporan yang lebih menonjol daripada transaksi.
Grafik yang terlihat mengesankan tetapi jarang disentuh.
Saya melihat beberapa aplikasi kasir dan terus memikirkan satu pertanyaan:
Siapa sebenarnya yang menggunakan aplikasi ini?
Karena yang saya lihat bukan akuntan.
Bukan analis data.
Bukan orang yang duduk delapan jam di depan monitor.
Yang saya lihat adalah pemilik warung.
Penjual gorengan.
Pemilik toko kelontong.
Pedagang kecil yang harus melayani pembeli, menerima barang, menghitung stok, menjawab telepon, dan menyelesaikan banyak hal sekaligus.
Mereka tidak membuka aplikasi untuk menganalisis data.
Mereka membuka aplikasi untuk menyelesaikan transaksi.
Semakin saya melihat, semakin saya merasa ada sesuatu yang terbalik.
Banyak software modern terlihat hebat saat dipresentasikan.
Dashboard penuh grafik.
Statistik.
Insight.
Analitik.
Animasi.
Integrasi.
Semuanya terlihat mengesankan.
Tetapi saya mulai bertanya:
Apakah semua ini benar-benar membantu pengguna?
Atau hanya terlihat bagus saat dipresentasikan kepada investor, manajer, atau calon pelanggan?
Karena semakin lama saya mengamati, semakin sering saya menemukan pola yang sama.
Software dibuat dengan fokus pada apa yang bisa ditambahkan.
Bukan pada apa yang bisa disederhanakan.
Padahal pengguna tidak membeli kompleksitas.
Mereka membeli kemudahan.
Kebutuhan mereka sebenarnya sederhana.
- Cari barang.
- Masukkan jumlah.
- Terima pembayaran.
- Selesai.
Empat langkah.
Tidak lebih.
Namun entah bagaimana empat langkah sederhana itu sering berubah menjadi antarmuka yang terasa seperti sistem administrasi perusahaan besar.
Saya tidak mengatakan semua aplikasi kasir buruk.
Saya hanya merasa banyak di antaranya dibangun dari perspektif yang berbeda dengan penggunanya.
Lalu muncul pertanyaan yang terus mengganggu saya.
Bagaimana jika aplikasi kasir berhenti mencoba menjadi segalanya?
Bagaimana jika ia hanya fokus menjadi kasir yang baik?
Bukan yang paling lengkap.
Bukan yang paling canggih.
Bukan yang paling banyak fitur.
Hanya menjadi alat yang membantu orang menyelesaikan pekerjaannya.
Cepat.
Jelas.
Tanpa membuat pengguna berpikir terlalu banyak.
Pertanyaan itu terus muncul sampai akhirnya saya memutuskan untuk membangun sendiri jawabannya.
Jawaban itu saya beri nama KasirCepat.
Saya memulai dari prinsip yang sangat sederhana.
Offline bukan fitur tambahan.
Offline adalah fondasi.
Internet mati bukan kejadian langka.
Terutama bagi banyak usaha kecil di Indonesia.
Jika aplikasi berhenti bekerja ketika koneksi hilang, maka aplikasi tersebut gagal menjalankan tugas utamanya.
Karena transaksi tidak menunggu sinyal kembali.
Speed lebih penting daripada efek visual.
Saya berkali-kali membuang ide yang sebenarnya terlihat menarik.
Animasi.
Efek transisi.
Komponen tambahan.
Bukan karena semuanya buruk.
Tetapi karena setiap tambahan memiliki biaya.
Dan biaya itu dibayar oleh pengguna dalam bentuk waktu.
Satu layar, satu tujuan.
Saya tidak ingin pengguna membuka halaman transaksi lalu harus mencari tombol yang dibutuhkan.
Saya tidak ingin pengguna merasa tersesat.
Setiap layar harus memiliki tujuan yang jelas.
Sesederhana mungkin.
Ada alasan lain yang lebih personal.
Saya muak melihat software yang terasa dibuat untuk dipresentasikan.
Bukan untuk digunakan.
Dashboard yang indah belum tentu nyaman digunakan setiap hari.
Grafik yang keren belum tentu membuat transaksi lebih cepat.
Fitur yang panjang belum tentu menyelesaikan masalah.
Kadang yang dibutuhkan pengguna hanyalah sesuatu yang bekerja.
Dan terus bekerja.
Tanpa membuat hidup mereka lebih rumit.
141 jam. Tiga minggu. Dua hari demam.
Kalau dihitung, angka itu sebenarnya tidak terlalu istimewa.
Banyak orang menghabiskan waktu lebih lama untuk membangun sesuatu.
Tetapi bagi saya, angka itu menyimpan cerita yang berbeda.
Karena tidak ada investor yang menunggu.
Tidak ada perusahaan yang memberi tenggat waktu.
Tidak ada tim besar yang mendorong pekerjaan ini maju.
Hanya saya.
Laptop.
Dan keyakinan bahwa masalah ini layak diselesaikan.
Dua hari di antaranya saya bahkan sedang demam.
Saya masih ingat membuka laptop sambil berpikir bahwa mungkin saya seharusnya beristirahat.
Tetapi setiap kali menutup layar, pikiran itu kembali lagi.
Mengapa pekerjaan sederhana harus terasa rumit hanya karena software yang digunakan?
Pertanyaan itu terdengar kecil.
Tetapi justru pertanyaan kecil seperti itulah yang membuat banyak produk lahir.
Sebelum KasirCepat, ada banyak hal yang tidak berjalan sesuai rencana.
Interview yang gagal.
Email yang tidak pernah mendapat balasan.
Proyek yang selesai dibangun tetapi hampir tidak mendapat perhatian.
Mungkin sebagian besar pembuat produk independen pernah mengalami fase seperti itu.
Fase ketika kita mulai mempertanyakan apakah semua usaha yang dilakukan benar-benar berarti.
Saya juga pernah berada di titik itu.
Dan mungkin sesekali masih berada di sana.
Tetapi KasirCepat terasa berbeda.
Karena untuk pertama kalinya saya tidak membayangkan angka unduhan.
Saya tidak membayangkan statistik.
Saya tidak membayangkan pertumbuhan pengguna.
Saya membayangkan seseorang membuka aplikasi ini sebelum tokonya buka.
Menggunakannya sepanjang hari.
Lalu menutup tokonya tanpa harus berdebat dengan aplikasi yang ia gunakan.
Gambaran itu terasa jauh lebih nyata daripada grafik apa pun.
Pada akhirnya, ini bukan cerita tentang aplikasi kasir.
Ini cerita tentang rasa hormat terhadap waktu pengguna.
Tentang keyakinan bahwa software seharusnya membuat pekerjaan lebih mudah, bukan lebih rumit.
Tentang keberanian untuk menghapus sesuatu ketika tidak diperlukan.
Tentang memilih kesederhanaan ketika kompleksitas terlihat lebih mengesankan.
Dan mungkin, tentang keyakinan yang agak keras kepala bahwa hal-hal kecil tetap layak diperjuangkan.
Bahkan ketika tidak banyak orang yang memperhatikannya.
Jika ada satu hal yang ingin saya capai.
Saya tidak ingin membuat aplikasi kasir terbesar.
Saya tidak ingin membuat aplikasi kasir paling canggih.
Saya hanya ingin membuat aplikasi yang membantu seseorang bekerja sedikit lebih mudah hari ini dibanding kemarin.
Kalau itu berhasil terjadi, maka 141 jam, tiga minggu, dan dua hari demam terasa seperti harga yang layak dibayar.
Coba KasirCepat
KasirCepat adalah aplikasi kasir offline untuk UMKM Indonesia.
Tersedia untuk Android, Windows, dan Linux.
Gratis digunakan.
Tanpa batas produk.
Tanpa batas transaksi.
Dan tetap berjalan meskipun internet tidak tersedia.
π https://flagodna.com/kasir-cepat
Kalau kamu mengenal pemilik warung, toko kelontong, atau usaha kecil yang masih mencatat manual, mungkin aplikasi ini bisa membantu mereka bekerja sedikit lebih mudah setiap hari.
Top comments (0)