Setiap kali dapat kesempatan untuk sharing, proses prepare materinya sekarang hampir selalu ditemani AI. Bukan karena malas mikir 😆, tapi karena memang masing-masing AI tools ternyata punya kelebihan yang berbeda-beda.
Ada yang saya pakai untuk brainstorming, ada yang membantu melihat flow presentasi, sampai ada yang membantu membuat slide yang lebih proper.
Workflow yang saya pakai juga bukan sesuatu yang baku. Kadang berubah-ubah tergantung jenis event dan audiensnya. Tapi kurang lebih alurnya seperti ini.
1. Mulai Brainstorming dengan ChatGPT
Sebagai generasi yang… entah kenapa lebih sering diskusi sama ChatGPT dibanding manusia 😅, biasanya semua dimulai dari sini.
Prompt awal saya kurang lebih seperti ini:
Saya akan mengisi talk di event berikut. Berdasarkan brief event ini dan history diskusi kita sebelumnya, menurutmu topik apa yang cocok saya bawakan? Tolong jelaskan juga outline dan detail pembahasannya.
Lalu saya lampirkan brief event tersebut.
Menurut saya, salah satu kekuatan ChatGPT bukan cuma karena dia bisa kasih ide, tapi karena dia juga “ingat” hal-hal yang pernah kita diskusikan sebelumnya.
Misalnya project yang pernah saya kerjakan, pengalaman implementasi AI di kantor, artikel yang pernah saya tulis, atau pengalaman menjadi speaker sebelumnya.
Jadinya rekomendasi yang diberikan terasa lebih personal dan lebih dekat dengan pengalaman sendiri.
Ini penting.
Karena menurut saya, audiens biasanya lebih suka mendengar pengalaman nyata dibanding presentasi yang isinya teori semua.
Kalau kita membawakan sesuatu yang memang pernah kita alami, delivery juga biasanya jauh lebih santai. Rasanya lebih seperti ngobrol daripada menghafal slide.
Setelah ChatGPT memberikan beberapa ide, saya hampir tidak pernah langsung menerimanya mentah-mentah.
Biasanya saya baca lagi sambil berpikir:
“Oke… ini menarik. Tapi ada pengalaman yang belum kamu tahu nih.”
Kalau saya pernah membaca artikel yang relevan, saya kasih link-nya.
Kalau saya punya project yang bisa dijadikan use case, saya minta dia pelajari.
Kalau ada insight yang baru kepikiran, saya tambahkan lagi ke context.
Lalu diskusi berlanjut lagi.
Proses ini bisa bolak-balik berkali-kali sampai outline materinya benar-benar terasa pas.
2. NotebookLM untuk Latihan Delivery dan Cari Ide Visualisasi
Setelah outline mulai matang, saya pindah ke Google NotebookLM.
Semua context tadi saya masukkan:
- Brief event
- Draft hasil brainstorming dari ChatGPT
- Artikel atau referensi tambahan
- Kalau perlu project atau dokumentasi yang relevan
Baru setelah itu saya mulai bermain dengan beberapa fiturnya.
🎙️ Ringkasan Audio (Podcast)
Ini mungkin fitur favorit saya.
NotebookLM akan membuat percakapan seperti podcast antara dua orang. Satu orang akan bertanya berdasarkan context yang kita berikan.
Satunya lagi menjelaskan jawabannya. Ini cukup membantu untuk membayangkan bagaimana nanti materi itu disampaikan.
Dari sini biasanya saya mulai memperhatikan:
- Hook pembuka seperti apa yang menarik.
- Urutan cerita yang lebih enak diikuti.
- Bagian mana yang terlalu panjang.
- Transisi antar topik.
- Kalimat-kalimat yang terdengar lebih natural ketika diucapkan.
Yang menarik lagi, kita bisa mengubah gaya pembahasannya.
Mau dibuat lebih mendalam, diringkas, dibuat seperti debat, atau bahkan lebih kritis juga bisa.
Kadang setelah mendengar versi podcast ini malah muncul ide baru yang sebelumnya tidak kepikiran.
Bonusnya, materi juga jadi lebih gampang diingat karena sudah beberapa kali “didengar”, bukan cuma dibaca.
🖼️ Slide Presentasi
Setelah itu saya lanjut mencoba fitur Slide Presentasi.
Tujuannya bukan untuk langsung dipakai. Lebih ke mencari inspirasi.
Misalnya:
- Urutan slide seperti apa yang lebih nyaman.
- Visual seperti apa yang cocok.
- Ilustrasi apa yang bisa dipakai.
- Flow presentasinya bagaimana.
Kadang saya generate berkali-kali hanya untuk melihat pendekatan yang berbeda.
Lucunya, justru di tahap ini sering muncul ide-ide baru.
Ternyata melihat materi dalam bentuk visual bisa memancing perspektif yang berbeda dibanding hanya membaca teks.
❓ Simulasi Q&A
Fitur terakhir yang sering saya gunakan adalah Kartu Tanya Jawab dan Quiz.
Ini cukup membantu untuk latihan sebelum hari H.
Minimal saya jadi punya gambaran pertanyaan apa saja yang kemungkinan akan muncul dari peserta.
Walaupun… tetap saja nanti ada satu pertanyaan yang sama sekali tidak kepikiran. Itu sudah hukum alam seorang speaker. 😂
3. AI IDE untuk Membuat Slide yang Lebih Fleksibel
Kalau konsep materi dan alurnya sudah fix, baru saya mulai membuat slide.
Di tahap ini saya lebih sering menggunakan AI IDE seperti Kiro, Claude Code, atau tools AI berbasis CLI lainnya.
Kenapa?
Karena saya lebih suka membuat slide dalam bentuk HTML dibanding PowerPoint biasa.
Dengan HTML saya bisa lebih bebas mengatur:
- layout,
- animasi,
- interaksi,
- responsive design,
- sampai detail kecil yang biasanya cukup ribet kalau dikerjakan manual.
Workflow-nya biasanya sederhana.
- ChatGPT membantu menyusun isi materi.
- NotebookLM membantu mengevaluasi flow dan delivery.
- Lalu AI IDE membantu mengubah semuanya menjadi slide yang lebih polished.
Contoh slide yang terakhir saya buat:
https://ifanzalukhu97.github.io/slides/from-problem-to-product.html
Penutup
Kurang lebih seperti itu workflow yang paling sering saya pakai saat menyiapkan materi sharing.
Apakah selalu mulus? Tentu tidak. 😆
Fun fact, ide terbaik saya justru sering muncul ketika deadline submission sudah tinggal hitungan jam atau bahkan malam sebelum acara.
Entah kenapa otak baru merasa, “Oke, sekarang waktunya bekerja.”
Mungkin memang benar ada istilah The Power of Kepepet.
Walaupun… saya tetap tidak merekomendasikan dijadikan best practice. 🤣









Top comments (0)