Aku tidak membangun aplikasi untuk viral.
Aku membangunnya karena ada yang kurang — dan ketidakhadirannya cukup mengganggu sampai aku lebih memilih begadang memperbaikinya daripada terus membiarkannya.
InfaqKu lahir dari sana. Bukan dari rencana bisnis. Bukan dari riset pasar. Dari rasa tidak nyaman yang selalu muncul setiap Ramadan dan tidak bisa aku abaikan.
🧭 Aku Punya Satu Aturan
Sebelum menulis satu baris kode pun, aku selalu bertanya pada diri sendiri:
"Apakah aku sendiri akan menggunakan ini?"
Bukan "apakah orang akan mengunduhnya." Bukan "apakah ini bisa scale." Tapi — apakah aku, secara pribadi, akan membuka aplikasi ini dan mempercayainya dengan sesuatu yang benar-benar penting bagiku?
Kalau jawabannya tidak, aku tidak akan membuatnya.
Bertahun-tahun, jawaban untuk setiap aplikasi zakat yang aku coba adalah tidak. Secara fungsi mungkin cukup. Tapi rasanya tidak bisa dipercaya. Iklan di dalam aplikasi pencatat ibadah. Sinkronisasi cloud untuk catatan doaku. Formulir pendaftaran hanya untuk membuka kalkulator.
Ini bukan sekadar keluhan soal UX. Ini soal ketidakcocokan nilai. Dan aku tidak bisa merilis sesuatu yang tidak aku yakini.
🕌 Ibadah Bukan Sebuah Data Point
Aku seorang Muslim. Zakat, infaq, sedekah — ini adalah ibadah. Sesuatu yang intim. Sesuatu yang personal. Milik antara aku dan Allah.
Ketika sebuah aplikasi menyinkronkan riwayat sedekahku ke server yang tidak aku kendalikan, atau menampilkan iklan banner tepat setelah aku mencatat donasi — itu bukan hanya menjengkelkan. Rasanya seperti pelanggaran terhadap sesuatu yang sakral.
Aku tidak berpikir developer yang membangun aplikasi-aplikasi itu punya niat buruk. Aku hanya merasa mereka tidak pernah bertanya seperti yang selalu aku tanyakan: apakah ini terasa benar?
Bagiku, jawabannya sudah jelas. Kalau aku membangun alat untuk ibadah, datanya hanya boleh ada di perangkatmu dan tidak ke mana-mana. Titik.
🛠️ Apa yang Sebenarnya Aku Jaga sebagai Developer
Aku sudah membangun di bawah FlagoDNA sejak 2020. Lebih dari 60 ribu pengguna. Lebih dari 15 aplikasi. Dan hal yang paling aku banggakan bukan angka-angka itu — melainkan bahwa aku tidak pernah merilis sesuatu yang membuatku malu.
Filosofiku adalah Mlampah Ing Tresno — frasa dari bahasa Jawa yang berarti berjalan dalam cinta. Terdengar puitis karena memang begitu adanya. Tapi ini juga praktis. Artinya:
Bangun hanya apa yang benar-benar kamu pedulikan. Kodenya akan lebih baik. Keputusannya akan lebih jernih. Dan ketika kamu debugging tengah malam, kamu masih tahu kenapa ini penting.
InfaqKu adalah wujud dari itu sepenuhnya. Tidak ada fitur kompromi. Tidak ada lapisan monetisasi yang disembunyikan untuk nanti. Tidak ada "kita tambahkan iklan di v2." Yang kamu lihat adalah apa adanya — dan apa adanya itu persis seperti yang aku inginkan.
📱 Lalu, Apa yang Sebenarnya Aku Bangun?
Setiap keputusan dalam aplikasi ini berakar dari sebuah nilai, bukan permintaan fitur.
Aku ingin kejujuran tentang pemberianmu — maka ada tab Perjalanan yang menampilkan zakat, infaq, dan sedekahmu dalam rentang minggu, bulan, tahun, hingga sepanjang waktu. Ada pohon yang tumbuh 🌳 dan berubah setiap bulan, diam-diam mencerminkan musim yang sedang kamu jalani. Bukan dashboard. Tapi cermin.
Aku ingin tidak ada alasan untuk tidak tahu kewajibanmu — maka aku membangun empat kalkulator Zakat dari nol. Zakat Maal, Zakat Fitrah, Zakat Pertanian, Zakat Perniagaan. Masing-masing menjelaskan dasar fiqihnya, karena aku percaya orang berhak memahami apa yang mereka lakukan dan mengapa, bukan sekadar mendapat angka.
Aku ingin tempat untuk jiwa, bukan hanya buku besar — maka ada tab Refleksi. 39 ayat Al-Qur'an, 20 Hadits shahih, 10 kutipan. Bukan konten acak. Kata-kata yang dipilih dengan cermat tentang memberi, kedermawanan, dan keikhlasan. Sesuatu yang kamu renungkan sejenak sebelum menutup aplikasi.
Dan aku ingin privasi yang nyata — maka ada kunci biometrik, backup lokal terenkripsi, tanpa koneksi internet sama sekali. Catatanmu adalah milikmu. Selamanya.
Tidak ada satu pun dari ini yang sekadar "nice to have." Masing-masing adalah jawaban atas sesuatu yang menggangguku tentang bagaimana aplikasi di kategori ini dibangun sebelumnya.
🤲 Bagian yang Paling Penting
Aku membuat InfaqKu gratis karena aku menganggapnya sebagai sedekah jariyah — amal yang terus mengalir meski aku sudah tidak aktif mengerjakannya.
Aku juga menulis puisi. Dan dalam keduanya — kode dan puisi — aku mengejar hal yang sama: sesuatu yang jujur, dibuat dengan sepenuh hati, yang menyentuh seseorang yang tidak akan pernah aku temui dan dengan pelan membuat harinya sedikit lebih baik.
Itulah seluruh pekerjaannya, sejatinya.
Bukan unduhan. Bukan rating. Hanya kegunaan yang sunyi dari sesuatu yang dibuat dengan cinta.
🔗 Tautan
| 📱 Coba InfaqKu | Unduh di Google Play → |
| 📖 Halaman aplikasi | flagodna-developer.github.io/project/infaqku → |
| 🏢 FlagoDNA | flagodna.com → |
| 👨💻 Tentang saya | cahyanudien.site → |
Barakallahu fiikum. 🤲
Top comments (0)