DEV Community

Cover image for ABCDE nya DevOps itu Begini...
ASTOMO PANCORO PUTRO
ASTOMO PANCORO PUTRO

Posted on

ABCDE nya DevOps itu Begini...

Dalam dunia pengembangan perangkat lunak, budaya DevOps semakin menjadi hal yang tak dapat dikesampingkan. Namun banyak organisasi yang hanya bermodalkan semangat mencoba menerapkan budaya DevOps sebab pengetahuannya minim dan justru fokus pada automation. Padahal, inti dari budaya DevOps itu hanyalah sederhana saja.

A: Agile - Lincah

Lincah itu dimaknai sebagai kemampuan organisasi untuk merespon perubahan dengan cepat. Namun bukan berarti perubahan business flow di luar kontrak yang disepakati. Lalu apa dong? Perubahan yang direspon dengan cepat adalah perubahan yang memiliki business value tinggi bagi klien. Business value ini artinya, perubahan fitur tersebut bisa menggenjot revenue bagi klien. Di sini, lincah bermakna memberikan challenge kepada klien: mengutamakan fitur yang mendesak, penting, dan business value tinggi supaya timeline project tetap sesuai kontrak yang disepakati - dengan kata lain klien harus memprioritisasi ulang fitur yang sudah disepakati.

B: Blameless - Tidak mencari kesalahan

Dalam organisasi, permasalahan teknis bisa timbul kapan saja. Dengan budaya DevOps masalah itu dihadapi bersama sebagai tim, bukan menunjuk siapa yang salah. Seringkali dalam organisasi masih tertinggal budaya feodal masalah senioritas. Bukan dalam hal pengalaman, namun masa kerja. "Gue lebih lama di sini masa nurut-nurut aja sama orang baru". Sehingga ide-ide segar seringkali diabaikan. Padahal dalam ide tersebut ada paparan permasalahan yang bisa jadi kendala di kemudian hari. Dalam budaya feodal, tentu harus cari kambing hitam alih-alih melihat akar permasalahan (root cause analysis) dan memikirkan bersama solusinya. Dengan budaya DevOps, permasalahan dipandang sebagai tantangan bersama untuk dicarikan solusinya dan menjadi pembelajaran di masa yang akan datang.

C: Collaboration - Kerjasama

Kerjasama dalam budaya DevOps itu makna nya luas. Tidak sekedar mengerjakan suatu hal bersama-sama, namun juga lintas platform. Dalam satu project tidak mungkin satu orang dev mengerjakan semuanya sendirian, apalagi jika menghadapi suatu tool atau runtime yang tidak dia kuasai. Hal semacam ini bukan sesuatu yang memalukan. Dengan budaya DevOps, kerjasama dengan personal yang memiliki kecakapan dalam bidang lain justru wajib. Misalnya ada project web app berbasis Node.js, namun memerlukan suatu tool berbasis python atau golang. Meng-hire personal yang bisa mengerjakan tool tersebut lebih menguntungkan ketimbang mencoba sendiri oleh personal yang tidak punya skill di situ. Justru jika memaksa mencoba sendiri tanpa skill malah akan menghabiskan waktu.

D: Decentralised - Berbagi

Salah satu manfaat menerapkan budaya DevOps adalah memecah kebuntuan antara developer dan operation. Namun budaya DevOps juga menekankan pentingnya berbagi. Pekerjaan tidak harus dikerjakan sendiri, namun dipecah-pecah menjadi module yang bisa dikerjakan banyak orang. Kebutuhan teknologi (tech stack) juga wajib dibagikan informasi nya ke seluruh tim supaya ditemukan solusi final dan permanen. Seperti soal deployment apakah memakai containerisasi atau hanya transfer file lalu mensetup runtime di server sasaran. Kemudian perlu nya ada stage dan production server. Dan sebagainya. Semua hal tersebut perlu dipikirkan bersama antara developer dan operation. Tidak ada yang namanya terima jadi dalam budaya DevOps.

E: Empathy - Perduli

Perduli bermakna menyediakan solusi untuk menghadapi kendala bersama. Perduli ini lebih kearah investasi ketimbang ide. Investasi bukan berarti harus menyediakan device gahar, namun menciptakan sistem dan kondisi yang bersifat inklusif. Misalnya, tidak mewajibkan tim untuk menggunakan laptop dengan spesifikasi atau OS tertentu (BYOD/Bring Your Own Device). Solusinya bisa dengan menyewa layangan hosting murah untuk membikin sistem self hosted yang terintegrasi untuk proses development, testing, dan deployment. Perduli dalam bentuk lain bisa juga dengan tidak menambah overtime dengan alasan extra effort karena habis cuti. Cuti (leave) adalah hak setiap personal tim. Pekerjaan yang dipending sementara seharusnya diprioritisasi ulang sehingga bagian yang belum dikerjakan adalah bagian yang tidak mengganggu keseluruhan business flow. Misalnya pekerjaan menambah layer 2FA pada login, jika ada permintaan verifikasi via email dan via whatsapp maka setelah salah satu dikerjakan maka metode verifikasi lain bisa dipending dan dikerjakan di hari-hari selanjutnya. Sebab multi metode untuk verifikasi itu bersifat redundant dan tidak mendesak jika salah satu saja sudah bisa digunakan. Namun tidak berarti redundancy ini diabaikan.

Kesimpulan

Budaya DevOps memecahkan kebuntuan antara development dan operation. Inti dari budaya DevOps adalah kerjasama dan perduli, sehingga setiap permasalah yang dihadapi dipandang sebagai tantangan bersama yang perlu dicarikan solusinya. Solusi dalam budaya DevOps selalu bersifat inklusif dan memberikan keuntungan bersama.

Top comments (0)