DEV Community

Agung Gumelar
Agung Gumelar

Posted on

Agentic Coding: Saat Menulis Kode Bukan Lagi Bagian Terberat dari Software Engineering

Agentic Coding: Saat Menulis Kode Bukan Lagi Bagian Terberat dari Software Engineering

cover

Beberapa tahun lalu, kita melihat AI sebagai asisten yang membantu melengkapi baris kode melalui autocomplete. Kita merasa terbantu karena tidak perlu lagi menghafal seluruh dokumentasi API. Namun, memasuki tahun 2026, lanskapnya sudah berubah total. Kita tidak lagi sekadar menggunakan "asisten", melainkan mengorkestrasi "agen".

Fenomena Agentic Coding telah menggeser paradigma dasar pengembangan perangkat lunak. Menulis kode—yang dulu menjadi aktivitas utama seorang engineer—kini menjadi komoditas murah. Tantangan terbesarnya bukan lagi tentang bagaimana cara mengimplementasikan fitur, melainkan bagaimana memverifikasi bahwa apa yang dihasilkan oleh agen tersebut benar, aman, dan tidak merusak sistem secara keseluruhan.

Jebakan Kecepatan (The Speed Trap)

Ada satu ironi besar yang terjadi saat ini: produktivitas dalam hal jumlah baris kode (LOC) meningkat drastis, namun kecepatan pengiriman fitur ke produksi sering kali stagnan, atau bahkan melambat. Inilah yang bisa kita sebut sebagai "Jebakan Kecepatan".

Agen AI mampu menghasilkan Pull Request (PR) yang sangat besar dalam hitungan detik. Namun, kapasitas manusia untuk melakukan review tidak tumbuh secepat itu. Hasilnya, terjadi penumpukan di fase QA dan code review. Banyak tim yang akhirnya mengambil jalan pintas dengan melewatkan review mendalam demi mengejar deadline, yang pada gilirannya memicu lonjakan insiden di lingkungan produksi.

Kita terjebak dalam siklus di mana kode dihasilkan dengan sangat cepat, tetapi biaya verifikasinya menjadi jauh lebih mahal. Semakin besar PR yang dihasilkan AI, semakin sulit bagi manusia untuk memahami konteks dan potensi efek sampingnya.

Krisis "AI Slop" dan Utang Teknis

Masalah lain yang mulai mengemuka adalah munculnya AI slop—kode yang terlihat benar secara sintaksis dan berjalan saat dites secara sederhana, namun memiliki abstraksi yang buruk, redundan, dan sulit dipelihara.

Karena kemudahan dalam menghasilkan kode, banyak pengembang mulai mengabaikan prinsip desain perangkat lunak. Ada kecenderungan untuk membiarkan AI membuat solusi yang "asal jalan" tanpa memikirkan struktur jangka panjang. Jika hal ini dibiarkan, kita sedang membangun gunung utang teknis baru yang jauh lebih kompleks daripada utang teknis tradisional. Bedanya, kali ini utangnya ditulis oleh mesin dalam skala yang masif.

Paradoks Pengembang Junior

Hal yang paling mengkhawatirkan adalah dampak Agentic Coding terhadap pengembang junior. Dahulu, proses "berjuang" mencari bug selama berjam-jam atau mencoba memahami cara kerja sebuah library adalah bagian inti dari proses belajar. Di situlah intuisi teknis terbentuk.

Sekarang, ketika agen bisa memberikan jawaban instan, ada risiko hilangnya fase "perjuangan" tersebut. Pengembang junior mungkin bisa memberikan hasil kerja setara mid-level dalam hal output, tetapi mereka kekurangan fondasi mental untuk memahami mengapa solusi tersebut bekerja. Tanpa pemahaman mendalam, mereka akan kesulitan ketika harus mengambil keputusan arsitektural yang kompleks atau melakukan debugging pada masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh AI.

Menuju Peran Baru: Sang Verifikator dan Arsitek

Jika menulis kode sudah menjadi tugas mesin, lalu apa peran kita sebagai software engineer?

Peran kita sedang bertransformasi menjadi semacam "kurator" atau "verifikator". Keahlian yang paling berharga di tahun 2026 bukan lagi kemahiran dalam sintaksis bahasa pemrograman tertentu, melainkan kemampuan dalam System Design, pemahaman mendalam tentang keamanan, dan ketajaman dalam melakukan review.

Kita harus berhenti mengukur kesuksesan dari seberapa banyak fitur yang selesai dikoding, dan mulai mengukurnya dari seberapa stabil sistem yang kita bangun. Fokus utama kita bergeser dari how to build menjadi what to build dan how to verify.

Pada akhirnya, AI tidak menggantikan engineer, tetapi AI memperjelas apa yang sebenarnya membuat seorang engineer menjadi ahli: bukan kemampuan mengetik kode dengan cepat, melainkan kemampuan memberikan penilaian (judgment) yang tepat atas solusi teknis yang diambil.

Apakah kita sudah cukup siap untuk berhenti menjadi "penulis kode" dan mulai menjadi "arsitek sistem" yang benar-benar bertanggung jawab atas setiap baris yang berjalan di produksi?

Top comments (0)