Pendahuluan
Tepat kemarin.
(Semenjak artikel ini ditulis dalam draft.)
Ada sebuah event bernama Jatim Developer Day
Sebenarnya, ini merupakan acara tahunan. Namun, mungkin baru di tahun 2026 ini saya mengetahui sekaligus berkesempatan untuk pertama kalinya mengikuti acara tersebut.
Secara keseluruhan cukup baik.
Meski ada beberapa kekurangan dari pihak penyelenggara, saya tetap ingin mengucapkan terima kasih, terutama kepada para volunteer dan komunitas-komunitas yang sudah mendukung agar acara ini tetap berjalan.
Nah...
Ada tiga keynote speaker yang menurut saya cukup menarik untuk dibahas.
- Sandika Galih — Tech Talent 2.0: Cara Belajar, Beradaptasi, dan Tetap Relevan di Tengah Gelombang AI
- Nosa Shandy — Security Matters: AI Is the New Attack Surface
- Eko Kurniawan — AI Can Write Code. Can You Design the System? (TBC)
Menariknya, ketiga keynote menyinggung AI.
Mulai dari bagaimana kita sebagai pemula belajar dan beradaptasi, bagaimana kita sebagai pengguna melihat keamanan menjadi hal yang perlu diperhatikan, sampai bagaimana kita sebagai developer seharusnya merancang sebuah sistem.
Kalau dipikir-pikir...
Topik seperti ini memang cukup relevan dengan perkembangan AI sekarang.
Terutama bagi kita yang berada di dunia IT
Lalu, apa yang sebenarnya terdampak dengan adanya AI?
Pembahasan
Kalau dilihat dari ketiga keynote tersebut, sebenarnya masing-masing memiliki sudut pandang yang cukup berbeda.
Mulai dari bagaimana kita belajar dan beradaptasi, bagaimana AI membuka tantangan baru dalam keamanan, sampai bagaimana seorang developer seharusnya merancang sebuah sistem.
Namun, saya ingin mengambil beberapa hal yang menurut saya cukup menarik dari materi tersebut.
Sebagai mahasiswa Teknik Informatika yang masih dalam proses belajar, tentu ada banyak hal yang bisa saya ambil.
Dan kali ini saya ingin membahasnya dalam beberapa poin.
( ̄︶ ̄*))
1. Kita tidak lagi sekadar mempelajari, tapi harus menguasai
Dengan adanya AI...
Banyak pekerjaan yang sekarang bisa dikerjakan dengan lebih mudah.
Bahkan, beberapa pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup lama, sekarang bisa diselesaikan hanya dengan beberapa instruksi.
Dan memang, AI bisa melakukannya.
Tapi...
Kamu tahu sendiri kan, AI SLOP?
AI memang bisa menghasilkan sesuatu sesuai dengan apa yang kita minta.
Namun, bagaimana kalau kita sendiri tidak benar-benar memahami apa yang kita minta?
Misalnya, ketika kita ingin membuat sebuah aplikasi.
Kita meminta AI untuk membuatkan API, menentukan struktur database, atau bahkan merancang keseluruhan sistem.
Tapi, apakah kita memahami konsep yang digunakan?
Apakah kita tahu kenapa harus menggunakan pendekatan tersebut?
Apakah kita tahu bahwa solusi yang diberikan memang sesuai dengan kebutuhan?
Nah...
Menurut saya, di sinilah pentingnya penguasaan materi.
Kita tidak cukup hanya mengetahui cara menggunakan suatu teknologi. Kita juga perlu memahami bagaimana teknologi tersebut bekerja, apa tujuannya, dan kapan sebaiknya digunakan.
Sebab, AI bekerja berdasarkan konteks dan instruksi yang kita berikan.
Kalau kita sendiri tidak memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan, bagaimana AI bisa menghasilkan sesuatu yang benar-benar sesuai dengan keinginan kita?
Bahkan, bisa jadi AI memberikan solusi yang terlihat benar, tetapi sebenarnya tidak menyelesaikan masalah yang kita hadapi.
Jadi, bukan berarti kita harus menguasai semua hal sebelum menggunakan AI.
Namun, setidaknya kita harus memiliki pemahaman yang cukup terhadap hal yang sedang kita kerjakan.
Karena bagaimana kita bisa mengarahkan sesuatu jika kita sendiri tidak tahu ke mana arahnya?
2. Kita tidak hanya menggunakan, tapi juga mengendalikan
AI memang sangat canggih.
Dan kita semua tahu itu.
Sebagai pemula yang sedang belajar, mungkin kita cukup sering menggunakannya.
Entah untuk mencari referensi, memahami kode, memperbaiki error, atau bahkan membuat sebuah aplikasi.
Tapi, sebenarnya kamu menggunakan AI untuk apa?
Dan kenapa?
Pada acara kemarin, ada sebuah bagian dari materi Pak Sandika Galih yang cukup menarik perhatian saya.
"Take ConTRoL of your future."
Dengan penekanan pada kata CTRL.
- Core first // fondasi
- Think user-first // apa masalah yang ingin diselesaikan
- Review like a senior // keputusan lebih penting daripada sekadar kode program
- Learn the loop // belajar, berbagi, ulangi
Kalau dipikir-pikir...
Konsep tersebut cukup sederhana, tetapi relevan untuk kita yang masih belajar.
Ketika membuat sebuah aplikasi, tentu ada kepuasan tersendiri ketika melihat hasilnya berhasil berjalan.
Tapi...
Apakah aplikasi tersebut benar-benar menyelesaikan masalah?
Apakah aplikasi itu mempermudah pengguna atau justru menambah beban baru?
Nah, dengan konsep CTRL tadi, kita tidak hanya berfokus pada bagaimana membuat aplikasi.
Kita juga perlu memahami fondasinya, mengetahui masalah yang ada, dan melakukan review terhadap hasil yang dibuat.
Jadi, ketika menggunakan AI, kita tidak sekadar meminta kode program.
Kita sudah memiliki gambaran mengenai apa yang ingin dibuat dan bagaimana seharusnya aplikasi tersebut bekerja.
Hasil dari AI pun perlu kita periksa.
Apakah sudah sesuai kebutuhan?
Apakah alurnya benar?
Apakah solusi yang diberikan memang masuk akal?
Bukan sekadar melihat seberapa banyak fitur yang berhasil dibuat.
Kemudian ada satu bagian lagi yang menurut saya cukup menarik.
Learn the loop.
Belajar, berbagi, dan ulangi.
Saya pernah mendapatkan sebuah kalimat ketika masih di boarding school.
"Cara belajar yang efektif adalah dengan mengajar."
Kurang lebih seperti itu.
Ketika kita mencoba mengajarkan sesuatu yang sudah dipelajari kepada orang lain, secara tidak langsung kita sedang mengulang materi tersebut.
Bahkan, kita juga sedang menguji pemahaman sendiri.
Sebab, memahami sesuatu dan mampu menjelaskannya kepada orang lain adalah dua hal yang berbeda.
Kalau kita hanya mengikuti tutorial atau instruksi dari AI, belum tentu kita benar-benar memahami prosesnya.
Tapi ketika kita mencoba menjelaskan kembali bagaimana sesuatu bekerja...
Nah, di situ kita bisa mengetahui seberapa jauh pemahaman kita.
3. Kita tidak bisa menolak, tapi harus menyesuaikan
Dengan semakin canggihnya perkembangan AI...
Banyak sekali pekerjaan yang mulai bisa digantikan atau dipermudah.
Ya.
Banyak sekali.
Tapi, pekerjaan seperti apa?
Menurut saya, salah satunya adalah pekerjaan yang hanya berfokus pada implementasi dari keputusan yang sudah ditentukan.
Ketika kebutuhan dan solusi sudah jelas, AI bisa membantu menerjemahkannya menjadi kode program dengan cukup cepat.
Lalu, kalau kita masih membanggakan kemampuan yang ternyata bisa dikerjakan AI, apa yang membedakan kita sebagai seorang developer?
Nah...
Kalau kita melihat kembali dua poin sebelumnya, sebenarnya ada dua hal yang perlu kita miliki: penguasaan materi dan kemampuan mengendalikan AI.
Keduanya saling berkaitan.
Kita perlu memahami apa yang sedang dikerjakan agar bisa menentukan apa yang dibutuhkan. Kemudian, dengan pemahaman tersebut, kita bisa mengarahkan AI dan menilai hasil yang diberikan.
Sebab, kalau kemampuan kita hanya sebatas mengetahui cara mengimplementasikan sesuatu, AI pun bisa melakukannya.
Bahkan mungkin lebih cepat dan lebih jago.
Pada bagian ini saya teringat dengan materi Pak Eko Kurniawan.
Ada sebuah kalimat yang cukup menarik:
"Kode jadi murah, keputusan jadi mahal."
Kalau dipikir-pikir, memang begitu.
AI bisa membantu kita menulis kode, membuat struktur program, bahkan memberikan beberapa alternatif solusi.
Tapi, ada banyak pertimbangan di balik sebuah keputusan yang tidak cukup hanya dilihat dari satu konteks.
Misalnya...
Ketika kita sedang membangun sebuah aplikasi, apakah aplikasi tersebut perlu mendukung penggunaan secara offline?
Jika target penggunanya berada di wilayah dengan akses internet yang buruk, mungkin fitur offline menjadi kebutuhan penting.
Namun, jika aplikasi tersebut digunakan dalam lingkungan dengan koneksi internet yang stabil dan seluruh data harus selalu tersinkronisasi, pendekatan online mungkin lebih masuk akal.
AI bisa memberikan rekomendasi berdasarkan informasi yang kita berikan.
Bahkan, AI bisa membandingkan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pendekatan.
Tapi, apakah semua konteks sudah kita berikan?
Apakah semua kebutuhan sudah kita ketahui?
Dan apakah rekomendasi tersebut benar-benar sesuai dengan kondisi yang ada?
Di sinilah menurut saya peran seorang developer tetap dibutuhkan.
Bukan hanya tentang bagaimana mengimplementasikan sesuatu, tetapi juga memahami mengapa sesuatu perlu dibuat dengan cara tertentu.
Jadi, bukan berarti AI sama sekali tidak bisa mengambil keputusan.
AI bisa membantu menganalisis dan memberikan rekomendasi.
Namun, kita tetap perlu memahami konteksnya, menilai setiap alternatif, dan bertanggung jawab atas keputusan yang akhirnya diambil.
Karena pada akhirnya, kalau hanya sekadar bisa membuat sesuatu, AI pun bisa.
Yang perlu kita bangun adalah kemampuan untuk memahami, menentukan, dan mengendalikan apa yang kita buat.
Penutup
Well...
Dari ketiga keynote tersebut, saya mendapatkan satu gambaran bahwa perkembangan AI bukan berarti kita harus berhenti belajar.
Justru sebaliknya.
Kita perlu lebih memahami apa yang sedang kita kerjakan.
Tidak hanya bagaimana menggunakan AI, tetapi juga bagaimana mengarahkannya, menilai hasil yang diberikan, dan menentukan keputusan di balik sesuatu yang kita bangun.
Mungkin ke depannya, kemampuan menulis kode bukan lagi menjadi satu-satunya hal yang membedakan seorang developer.
Karena kalau hanya sekadar bisa membuat sesuatu, AI pun bisa.
Yang menjadi tantangan adalah bagaimana kita memahami masalah, menentukan solusi, dan memastikan bahwa apa yang kita bangun memang sesuai dengan kebutuhan.
Dan mungkin, itulah salah satu hal yang perlu mulai kita persiapkan sebagai developer.
Sedikit catatan...
Sepanjang pembahasan ini, saya memang lebih banyak berfokus pada dua keynote, yaitu materi dari Pak Sandika Galih dan Pak Eko Kurniawan.
Bukan berarti keynote lainnya tidak menarik atau tidak penting.
Namun, dari sudut pandang saya sebagai seseorang yang masih berada di tahap belajar, kedua materi tersebut memberikan banyak gambaran tentang hal-hal yang perlu saya persiapkan untuk berkembang sebagai seorang developer.
Tentu masih banyak hal lain yang bisa dibahas dari Jatim Developer Day kemarin.
Mungkin saja ada sudut pandang atau pelajaran lain yang belum saya tangkap. Jadi, tulisan ini hanyalah sebagian kecil dari apa yang saya dapatkan selama mengikuti acara tersebut.
Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menyelenggarakan acara ini, para volunteer, komunitas, dan tentunya para pembicara yang sudah berbagi pengalaman serta pengetahuannya.
Dan terima kasih juga untuk kamu yang sudah membaca sampai akhir.
Jangan lupa secangkir kopi hari ini! ☕
Top comments (0)