description: "Analisis komprehensif mengenai dampak Artificial Intelligence (AI) terhadap masa depan dunia kerja, Society 5.0, dan perspektif Estetika Humanisme."
Oleh: Muhammad Fauzi – Mahasiswa Universitas Siber Asia
📌 Highlight Utama:
- 📊 Proyeksi WEF 2025–2030: 170 juta pekerjaan baru tercipta vs 92 juta pekerjaan terdisrupsi (Potensi net +78 juta).
- 💡 Riset ILO (2025): AI lebih cenderung meng-augmentasi (memperkuat) pekerjaan daripada menghancurkannya.
- 🏛️ Estetika Humanisme & Society 5.0: Teknologi harus berpusat pada manusia (human-centered). AI menggantikan tugas rutin, tetapi tidak menggantikan empati dan nilai kemanusiaan.
Pendahuluan
Perkembangan teknologi telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan tersebut semakin cepat dengan hadirnya Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. AI yang sebelumnya mungkin hanya dikenal dalam film atau sebagai teknologi masa depan, sekarang sudah dapat digunakan oleh masyarakat umum untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari mencari informasi, membuat tulisan, menerjemahkan bahasa, membuat gambar, membantu pemrograman, menganalisis data, hingga membantu pekerjaan di berbagai bidang.
Perkembangan tersebut tentu membawa banyak manfaat. Namun, di sisi lain muncul kekhawatiran bahwa kemampuan AI yang semakin tinggi dapat menyebabkan sebagian pekerjaan manusia hilang. Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan karena AI saat ini tidak hanya digunakan untuk pekerjaan fisik, tetapi juga mulai masuk ke pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan kemampuan berpikir dan kreativitas manusia.
World Economic Forum dalam The Future of Jobs Report 2025 memperkirakan bahwa hingga tahun 2030 akan terjadi perubahan besar pada dunia kerja. Laporan tersebut memperkirakan:
- 🚀 170 juta pekerjaan baru dapat tercipta.
- ⚠️ 92 juta pekerjaan dapat terdampak hingga hilang.
- 📈 Potensi net kenaikan: sekitar 78 juta pekerjaan baru.
Namun, perubahan tersebut juga menunjukkan bahwa keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja akan ikut berubah (World Economic Forum, 2025).
Kondisi tersebut kemudian menimbulkan sebuah pertanyaan penting: ketika AI semakin mampu melakukan pekerjaan manusia, apakah AI merupakan ancaman atau justru sebuah peluang?
"AI tidak dapat dilihat hanya sebagai ancaman ataupun peluang. AI adalah teknologi yang dampaknya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Persoalan sebenarnya bukan hanya mengenai apakah AI akan menggantikan pekerjaan manusia, tetapi bagaimana manusia dapat beradaptasi dengan perubahan tersebut tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya."
AI dan Perubahan Dunia Kerja
Perubahan dunia kerja akibat teknologi sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sejak revolusi industri, manusia telah menggunakan mesin untuk membantu melakukan berbagai pekerjaan. Mesin dapat membuat pekerjaan menjadi lebih cepat, efisien, dan menghasilkan lebih banyak produk dalam waktu yang lebih singkat.
Namun, AI memiliki karakteristik yang berbeda. Teknologi ini mulai mampu membantu pekerjaan yang sebelumnya dianggap membutuhkan kemampuan berpikir manusia. AI dapat membuat teks, mengolah informasi, membantu membuat desain, menerjemahkan bahasa, menganalisis data, dan membantu membuat program komputer.
International Labour Organization (ILO) dalam kajiannya pada 2025 menjelaskan bahwa dampak generative AI terhadap pekerjaan perlu dilihat berdasarkan tugas-tugas yang ada dalam suatu pekerjaan, bukan hanya berdasarkan nama profesinya.
💡 Temuan Penting ILO (2025):
ILO bahkan menekankan bahwa generative AI “is more likely to augment than destroy jobs”, karena AI dalam banyak kasus lebih mungkin mengambil alih sebagian tugas daripada menggantikan keseluruhan pekerjaan.
Pandangan tersebut memberikan perspektif yang menarik. Ketika seseorang menggunakan AI untuk membuat rancangan laporan, misalnya, bukan berarti seluruh pekerjaan orang tersebut telah digantikan. AI mungkin membantu membuat rancangan awal, tetapi manusia masih perlu memeriksa informasi, memahami konteks, menentukan keputusan, dan bertanggung jawab atas hasil akhirnya.
Dengan demikian, perubahan yang terjadi tidak selalu berarti manusia kehilangan pekerjaan karena AI, tetapi dapat berarti pekerjaan manusia berubah karena adanya AI.
AI sebagai Ancaman bagi Pekerjaan Manusia
Walaupun AI memiliki banyak manfaat, kekhawatiran mengenai kehilangan pekerjaan tetap harus diperhatikan. Tidak semua pekerjaan memiliki tingkat risiko yang sama. Pekerjaan yang terdiri dari tugas-tugas rutin dan berulang akan lebih mudah dibantu atau diotomatisasi menggunakan teknologi.
Misalnya, beberapa pekerjaan administratif yang berulang dapat dilakukan dengan sistem otomatis. Begitu juga dengan pekerjaan yang membutuhkan pemrosesan data dalam jumlah besar. Jika suatu pekerjaan dapat dilakukan lebih cepat dan lebih murah menggunakan teknologi, perusahaan tentu memiliki alasan ekonomi untuk mempertimbangkan penggunaan teknologi tersebut.
Masalahnya, kemampuan untuk beradaptasi dengan AI tidak dimiliki semua orang secara sama. Seseorang yang sudah terbiasa menggunakan teknologi mungkin lebih mudah mengikuti perubahan dibandingkan seseorang yang belum mendapatkan kesempatan untuk belajar.
World Economic Forum juga menunjukkan bahwa perubahan teknologi akan meningkatkan kebutuhan terhadap keterampilan baru:
- 💻 Keterampilan Teknis: AI dan big data, jaringan, serta keamanan siber.
- 🧠 Keterampilan Humanis: Berpikir kreatif, ketahanan (resilience), fleksibilitas, dan kemampuan bekerja sama.
⚠️ Peringatan Utama:
Ancaman terbesar mungkin bukan hanya AI itu sendiri, melainkan ketidaksiapan manusia menghadapi perubahan.
Selain itu, ada risiko lain yang tidak kalah penting, yaitu ketergantungan terhadap AI. Jika manusia terlalu sering menyerahkan proses berpikir kepada teknologi, manusia dapat kehilangan kebiasaan untuk memeriksa, mempertanyakan, dan mengambil keputusan secara mandiri. Karena itu, penggunaan AI tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis.
AI sebagai Peluang bagi Manusia
Di sisi lain, AI juga memberikan peluang yang sangat besar. AI dapat membantu manusia mengerjakan tugas yang membutuhkan waktu lama sehingga manusia dapat menggunakan waktunya untuk pekerjaan yang lebih penting.
Sebagai contoh, seorang pekerja dapat menggunakan AI untuk mencari dan mengelompokkan informasi, membuat rancangan awal sebuah dokumen, atau membantu menganalisis data. Setelah itu, manusia dapat menggunakan waktu yang tersedia untuk memeriksa hasil, mengambil keputusan, berdiskusi dengan rekan kerja, atau mengembangkan ide baru.
Dengan cara seperti ini, AI tidak harus diposisikan sebagai pesaing manusia. AI dapat menjadi alat yang meningkatkan kemampuan manusia (augmentation tool).
Data World Economic Forum juga menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya berkaitan dengan hilangnya pekerjaan. Laporan Future of Jobs 2025 memperkirakan adanya penciptaan pekerjaan baru dalam jumlah besar hingga 2030. Beberapa pekerjaan yang diperkirakan berkembang pesat meliputi:
- 📊 Spesialis Big Data
- 💳 Fintech Engineer
- 🤖 Spesialis AI dan Machine Learning
Artinya, perkembangan AI dapat menghilangkan beberapa jenis pekerjaan, tetapi juga menciptakan pekerjaan dan kebutuhan keterampilan baru.
Bagi mahasiswa dan generasi muda, hal ini seharusnya menjadi motivasi untuk terus belajar. Kita tidak cukup hanya memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi. Kita juga harus memahami bagaimana teknologi tersebut digunakan secara benar dan bertanggung jawab.
Perspektif Human Literacy: Apa yang Membuat Manusia Tetap Berharga?
Pertanyaan yang menurut saya paling menarik bukanlah “Apakah AI dapat menggantikan manusia?”, melainkan:
❓ “Apa yang membuat manusia tetap bernilai ketika AI semakin pintar?”
AI dapat membuat tulisan, gambar, kode program, dan berbagai bentuk pekerjaan lainnya. Namun, manusia memiliki sesuatu yang tidak dapat dilihat hanya dari hasil pekerjaan, yaitu pengalaman, perasaan, nilai moral, empati, dan hubungan sosial.
- Emosi & Hubungan Sosial: AI dapat membantu membuat pesan untuk seseorang yang mengalami masalah. Namun, memahami perasaan orang tersebut secara mendalam membutuhkan hubungan dan pengalaman manusia. Manusia dapat mempertimbangkan situasi berdasarkan ekspresi, pengalaman bersama, hubungan emosional, dan konteks sosial.
- Etika & Kebijakan: Hal yang sama berlaku dalam pengambilan keputusan. AI dapat memberikan rekomendasi berdasarkan data. Namun, keputusan akhir tetap membutuhkan manusia yang mampu mempertimbangkan nilai, etika, risiko, dan dampak keputusan terhadap orang lain.
Dalam konteks inilah Human Literacy menjadi sangat penting.
UNESCO pada 2026 melalui AI Competency Framework for Students menekankan pentingnya kompetensi yang membantu peserta didik menghadapi perkembangan AI. Framework tersebut mencakup 12 kompetensi dalam 4 dimensi, dan menempatkan kemampuan manusia dalam memahami serta menggunakan AI secara bertanggung jawab sebagai bagian penting dari pendidikan. UNESCO juga menempatkan human agency, critical thinking, dan ethics sebagai pilar utama.
Menurut saya, hal tersebut sangat sesuai dengan pembelajaran Estetika Humanisme. Manusia tidak seharusnya hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus tetap menjadi pihak yang mampu menentukan bagaimana teknologi digunakan. AI dapat membantu manusia menghasilkan sesuatu, tetapi manusia tetap harus menentukan mengapa sesuatu itu dibuat, untuk siapa, apa manfaatnya, apa risikonya, dan apakah hal tersebut benar secara etika.
AI dan Society 5.0: Teknologi untuk Manusia
Perkembangan AI juga memiliki hubungan erat dengan konsep Society 5.0. Pemerintah Jepang menjelaskan Society 5.0 sebagai “a human-centered society”, yaitu masyarakat yang berpusat pada manusia dan berusaha menggabungkan perkembangan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui integrasi ruang fisik dan ruang siber.
Menurut saya, konsep tersebut sangat relevan ketika kita membahas AI dan pekerjaan manusia:
- Teknologi seharusnya tidak hanya dikembangkan karena manusia mampu membuatnya, melainkan karena dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.
- Jika AI dapat membantu dokter mengolah informasi lebih cepat, membantu guru membuat bahan pembelajaran, membantu pekerja mengolah data, atau membantu menyelesaikan pekerjaan administratif, maka AI memberikan manfaat yang besar.
- Namun, jika AI digunakan hanya untuk mengurangi jumlah tenaga kerja tanpa memikirkan bagaimana manusia yang terdampak dapat beradaptasi, maka perkembangan teknologi tersebut perlu dipertimbangkan kembali dari sisi kemanusiaan.
🌟 Filosofi Utama:
Ukuran keberhasilan AI tidak seharusnya hanya berdasarkan seberapa banyak pekerjaan manusia yang dapat dilakukan oleh mesin, tetapi seberapa besar teknologi tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup manusia. Inilah salah satu makna penting dari pendekatan human-centered dalam Society 5.0.
Sikap yang Seharusnya Dimiliki Manusia
Menurut saya, manusia tidak perlu takut secara berlebihan terhadap AI. Namun, manusia juga tidak boleh menerima teknologi tersebut tanpa berpikir kritis.
1. Meningkatkan AI Literacy
Kita perlu memahami apa yang dapat dilakukan AI, apa keterbatasannya, bagaimana memanfaatkannya, dan bagaimana menghindari penggunaannya secara tidak bertanggung jawab.
2. Peran Strategis Pendidikan
Pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Mahasiswa tidak cukup hanya belajar teori di bidang masing-masing, tetapi perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. UNESCO pada 2025–2026 menjalankan inisiatif AI for Skills Development in Higher Education yang menekankan integrasi AI secara “responsible, ethical and human-centred”. Pendidikan tidak hanya mengajarkan mahasiswa cara menggunakan AI, tetapi bagaimana berpikir saat menggunakan AI.
3. Mengasah Human Skills Kunci
Kemampuan dasar manusia yang harus terus dikembangkan meliputi:
- 🗣️ Komunikasi & Kepemimpinan
- 🎨 Kreativitas & Empati
- ❤️ Emotional Intelligence & Kerja Sama
- 🧠 Berpikir Kritis (Critical Thinking)
💡 Prinsip Penting:
Kita tidak perlu berusaha menjadi manusia yang lebih cepat daripada mesin dalam melakukan pekerjaan yang sama. Kita perlu menjadi manusia yang mampu menggunakan mesin dengan bijak.
Refleksi dan Opini Penulis
Menurut saya, pertanyaan “Apakah AI akan menggantikan manusia?” sebenarnya bukan pertanyaan yang paling tepat. Pertanyaan yang lebih penting adalah:
🎯 “Bagaimana manusia dapat bekerja bersama AI tanpa kehilangan nilai kemanusiaannya?”
Jika manusia hanya memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan rutin yang dapat dilakukan mesin, pekerjaan tersebut memang semakin mudah untuk digantikan. Namun, manusia memiliki kemampuan yang lebih luas daripada sekadar menyelesaikan tugas. Manusia dapat memahami perasaan orang lain, membangun hubungan, mempertimbangkan nilai moral, memahami konteks sosial, belajar dari pengalaman, serta memberikan makna terhadap sesuatu.
Karena itu, saya melihat AI lebih sebagai peluang untuk berkembang daripada hanya sebagai ancaman.
Namun, peluang tersebut tidak akan muncul secara otomatis. Manusia harus mau belajar dan beradaptasi. Kita juga harus memahami bahwa tidak semua informasi yang diberikan AI selalu benar (hallucination). AI tetap dapat menghasilkan kesalahan, sehingga manusia harus memiliki kemampuan untuk memeriksa dan mempertanyakan hasilnya. Di sinilah kemampuan berpikir kritis menjadi sangat penting.
Saya juga berpendapat bahwa generasi muda tidak seharusnya hanya berlomba menjadi pengguna AI yang paling cepat. Yang lebih penting adalah menjadi pengguna AI yang paling bertanggung jawab.
- AI boleh membantu kita membuat pekerjaan menjadi lebih cepat, tetapi keputusan tetap harus berada di tangan manusia.
- AI boleh memberikan rekomendasi, tetapi manusia tetap harus memahami konsekuensinya.
- AI boleh membantu menghasilkan sebuah karya, mebikin karya tetap memerlukan tanggung jawab penuh manusia.
Dengan demikian, teknologi tidak menghilangkan manusia dari pusat kehidupan. Justru manusia harus memastikan bahwa teknologi tetap berada di tempat yang seharusnya, yaitu sebagai alat untuk membantu manusia.
Kesimpulan
Perkembangan AI memang membawa perubahan besar terhadap dunia kerja. Beberapa pekerjaan dan tugas manusia berpotensi mengalami otomatisasi, sementara pekerjaan lain akan berubah dan jenis pekerjaan baru juga akan muncul. Data ILO dan World Economic Forum menunjukkan bahwa dampak AI terhadap dunia kerja tidak sesederhana menggambarkan manusia akan kehilangan seluruh pekerjaannya. Perubahan lebih banyak terjadi pada tugas, keterampilan, dan cara manusia bekerja.
- 🔴 Ancaman: Apabila manusia tidak memiliki kesempatan dan kemampuan untuk beradaptasi.
- 🟢 Peluang: Apabila manusia mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Dalam perspektif Estetika Humanisme dan Human Literacy, manusia tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan seberapa cepat pekerjaan dapat diselesaikan. Manusia memiliki nilai melalui empati, kreativitas, kesadaran, hubungan sosial, moral, dan kemampuan memberikan makna terhadap kehidupan. Konsep Society 5.0 juga mengingatkan bahwa teknologi harus tetap berorientasi pada manusia (human-centered).
🏁 Kesimpulan Akhir:
Pada akhirnya, masa depan bukan hanya tentang AI melawan manusia, tetapi tentang bagaimana AI dan manusia dapat bekerja bersama. AI mungkin dapat menggantikan sebagian pekerjaan manusia, tetapi AI tidak seharusnya menggantikan nilai kemanusiaan itu sendiri.
📚 Daftar Pustaka
- Cabinet Office, Government of Japan. (2026). Society 5.0. Government of Japan.
- International Labour Organization. (2023). Generative AI likely to augment rather than destroy jobs. ILO.
- International Labour Organization. (2025). Generative AI and Jobs: A Refined Global Index of Occupational Exposure. ILO Working Paper 140.
- International Labour Organization. (2025). Generative AI and Jobs: A 2025 Update. ILO Research Brief.
- UNESCO. (2024, updated 2026). AI Competency Framework for Students. UNESCO.
- UNESCO. (2025–2026). AI for Skills Development in Higher Education. UNESCO.
- World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025. World Economic Forum.
- World Economic Forum. (2025). Future of Jobs Report 2025: 78 Million New Job Opportunities by 2030, but Urgent Upskilling Needed to Prepare Workforces. World Economic Forum.


Top comments (0)