DEV Community

Muhammad Dhiyaul Atha
Muhammad Dhiyaul Atha

Posted on

Saat Laptop Lama Menemukan Peran Barunya

Mengubah MacBook Pro 2012 Menjadi Server Pribadi (Eksperimen Pertamaku)

Ada satu MacBook Pro 2012 di hadapanku.
Bukan laptop utama, performanya juga jelas sudah tertinggal jauh dibanding mesin-mesin modern. Tapi justru dari situ muncul satu pertanyaan sederhana:

“Sejauh apa laptop lama ini masih bisa berguna?”

Pertanyaan itu akhirnya membawaku pada sebuah eksperimen kecil: mengubah MacBook Pro 2012 menjadi server pribadi, lalu mengontrolnya dari laptop utamaku menggunakan SSH.


Latar Belakang: Kenapa Laptop Lama?

Sebagai mahasiswa dan pembelajar di dunia software engineering, aku mulai sadar satu hal:
belajar server tidak cukup hanya dari teori.

Aku bisa membaca dokumentasi, menonton video, atau mengikuti tutorial, tapi tetap ada jarak antara “tahu” dan “pernah mengalami sendiri”.

Di sisi lain, aku punya:

  • MacBook Pro 2012 yang jarang dipakai
  • ketertarikan besar pada Linux
  • rasa penasaran tentang bagaimana server bekerja di dunia nyata

Daripada membiarkannya berdebu, aku memutuskan menjadikannya server eksperimen.


Pilihan Sistem: Arch Linux di Mesin Tua

Aku memilih Arch Linux untuk MacBook Pro 2012 ini.

Bukan karena paling mudah — justru sebaliknya.
Tapi karena aku ingin:

  • sistem yang ringan
  • kontrol penuh terhadap apa saja yang terpasang
  • dan pengalaman belajar yang “apa adanya”

Untuk laptop utamaku, aku menggunakan Acer Nitro V16 dengan Garuda Linux. Dari sinilah semua kontrol dilakukan.


Kendala: Tidak Semua Berjalan Mulus

Tentu saja, eksperimen ini tidak langsung berjalan mulus.

Beberapa kendala yang aku temui:

  • ⚠️ Hardware lama: kipas cepat panas, performa terbatas
  • ⚠️ Konfigurasi Arch Linux yang menuntut ketelitian
  • ⚠️ Networking yang awalnya membingungkan (IP, service, firewall)
  • ⚠️ SSH yang sempat gagal konek karena kesalahan kecil

Ada momen frustrasi, terutama saat:

“Kenapa sudah install SSH tapi tetap tidak bisa diakses?”

Namun justru di titik-titik inilah aku benar-benar belajar:
membaca log, memahami error, dan tidak asal copy–paste perintah.


Tujuan: Bukan Sekadar Bisa Remote

Tujuanku bukan hanya:

“bisa login SSH dari laptop lain”

Lebih dari itu, aku ingin:

  • memahami konsep server secara nyata
  • membiasakan diri mengelola sistem tanpa GUI
  • mensimulasikan workflow backend & DevOps sederhana
  • dan melatih kebiasaan bekerja secara remote

Server ini aku anggap sebagai laboratorium pribadi, tempat aman untuk salah dan belajar.


Progres: Saat SSH Akhirnya Berhasil

Momen paling memuaskan adalah saat dari Acer Nitro V16 aku menjalankan:

ssh atha@192.xxxx
Enter fullscreen mode Exit fullscreen mode

Lalu…
terminal MacBook Pro 2012 muncul di layarku.

Tidak ada tampilan grafis.
Tidak ada mouse.
Hanya terminal — tapi rasanya seperti membuka pintu ke dunia baru.

Sekarang aku bisa:

  • mengelola server dari laptop utama
  • install service tanpa menyentuh fisik server
  • menjadikan MacBook lama sebagai mesin yang “hidup kembali”

Dari sini, rencananya akan berlanjut ke:

  • web server
  • API sederhana
  • hardening SSH
  • dan mungkin automasi kecil-kecilan

Penutup

Eksperimen ini mengajarkanku satu hal penting:

Belajar server tidak harus mahal.
Kadang, laptop lama dan rasa penasaran sudah cukup.

MacBook Pro 2012 yang dulu terasa usang, kini punya peran baru.
Bukan sebagai mesin utama, tapi sebagai guru diam-diam yang mengajarkanku tentang sistem, kesabaran, dan proses belajar yang sebenarnya.

Dan perjalanan ini… baru saja dimulai.


Top comments (0)