Apakah Digitalisasi Mengancam Tradisi Pesantren?
Sebagian pengasuh khawatir, kalau pesantren ikut digital, apakah nilai tradisional akan hilang? Kekhawatiran ini wajar. Namun pengalaman lapangan menunjukkan, digitalisasi yang dirancang dengan adab justru dapat memperkuat identitas pesantren.
Pesantren bukan sekadar sekolah
Pesantren memiliki ciri khas yang perlu dijaga ketika berdigital: adab dan akhlak sebagai inti pendidikan, kiai dan pengasuh sebagai sumber pengajaran utama, serta komunitas santri sebagai lingkungan tarbiyah. Teknologi hadir untuk melayani tiga hal itu, bukan menggantikannya.
Prinsip digitalisasi yang menjaga identitas
Sistem digital sebaiknya menyelesaikan masalah nyata seperti administrasi yang berantakan, PPDB yang melelahkan, dan komunikasi wali santri yang tercecer. Otoritas tetap pada pengasuh, konten tetap melalui persetujuan, dan komunikasi digital tetap menjaga bahasa, salam, dan tata krama khas pesantren.
Bagian yang aman dimulai lebih dulu
Informasi publik, website, profil, galeri, berita, PPDB online, formulir pendaftaran, pencatatan keuangan, tagihan SPP, pengumuman resmi, serta pendataan santri dan wali umumnya lebih aman untuk didigitalkan lebih dulu karena tidak langsung menyentuh ranah pengajaran inti.
Bagian yang perlu pendekatan hati-hati
Konten pengajian, kajian kitab, hubungan pengasuh dengan santri, penilaian akhlak, tazkiyah, serta penyebaran fatwa atau pendapat keagamaan perlu kebijakan internal yang jelas sebelum disentuh teknologi. Digitalisasi yang baik tidak menghapus identitas pesantren, tetapi membantu nilai disampaikan lebih luas dan rapi.
Artikel ini pertama kali terbit di Santri Gresik Digital Agency.
Top comments (0)